Soccer sebagai 'Anak Tiri' Amerika yang Tidak Sengsara
Kalau ingin tahu anak tiri yang tidak sengsara, tengoklah sepakbola di Amerika Serikat. Kalau ingin tahu "anak utama", bukan "anak tiri", yang malah sengsara, lihat saja sepakbola di Indonesia.
Soccer, begitu orang Amerika menyebut sepakbola, memang bukan olahraga utama. Tapi sepakbola di Amerika jauh dari sengsara. Sebagai pelopor utama industrialisasi olahraga, soccer juga menikmati gelimang uang yang tidak sedikit.
Di Amerika Serikat, sepakbola bukan olahraga populer. Namun ini tidak menghentikan Negeri Paman Sam untuk sukses di lapangan hijau, meski hanya di kawasannya sendiri. Mutakhir, tim nasional (timnas) AS berhasil menjuarai Piala Emas CONCACAF usai mengakhiri perlawanan Panama 1-0 di Stadion Soldier Field, Chicago, AS, Minggu (28/7) lalu. Gelar juara ini sekaligus mengakhiri masa penantian Sam's Army --julukan timnas AS-- selama enam tahun. Terakhir kalinya mereka mengangkat trofi Piala Emas pada 2007, saat mengalahkan Meksiko 2-1.
Sebetulnya prestasi AS di enam tahun terakhir tidak jelek-jelek amat. Tercatat dalam dua penyelenggaraan terakhir sebelum ini, AS mampu jadi runner-up setelah kalah dari rival utama di kawasan ini, Meksiko, masing-masing 0-5 (tahun 2009) dan 2-4 (2011).
Berjaya jadi juara, perjalanan sepak bola timnas yang saat ini diarsiteki Juergen Klinsmann itu tak sepenuhnya mulus. Mereka tampak tertatih-tatih di babak kualifikasi Piala Dunia 2014 dengan pertandingan yang didominasi oleh hasil seri.
Soccer Kalah Pamor
Sepakbola (football, voetbal, futbol, fussball, calcio) merupakan cabang olahraga yang umumnya digemari orang. Tak heran kalau "The Greatest Show on Earth" meletakkan Piala Dunia di peringkat teratas, dan Piala Eropa di peringkat ketiga. Sementara olahraga multievent Olimpiade diapit oleh keduanya.
Namun, hal bertolak belakang terjadi di AS. Negeri ini boleh bangga dengan Pasuckquakkohowog, yang disebut-sebut sebagai sejarah lama untuk istilah "sepakbola". Akan tetapi, sepakbola yang akrab disebut soccer itu justru kalah populer dibanding American Football, bola basket, ataupun baseball. Masyarakat AS memang menggemari ketiga olahraga yang disebutkan terakhir itu karena bisa menghasilkan banyak point (goal).
Sudah tidak populer, istilah soccer juga dianggap sebagai salah satu cara Amerikanisasi, sehingga banyak yang menolak penggunaan "soccer" dan tetap setia dengan "football". Ini terjadi terutama di dataran Eropa, yang memang jadi kiblat sepakbola dunia.
Tapi sesungguhnya Amerika Serikat sendiri tidak salah. Kala pertama kali olah raga ini masuk ke AS, Inggris memang menggunakan kata "soccer". Bahkan, soccer sendiri jadi kata yang paling umum digunakan untuk menyebut sepakbola di Britania Raya.
Soccer, begitu orang Amerika menyebut sepakbola, memang bukan olahraga utama. Tapi sepakbola di Amerika jauh dari sengsara. Sebagai pelopor utama industrialisasi olahraga, soccer juga menikmati gelimang uang yang tidak sedikit.
Di Amerika Serikat, sepakbola bukan olahraga populer. Namun ini tidak menghentikan Negeri Paman Sam untuk sukses di lapangan hijau, meski hanya di kawasannya sendiri. Mutakhir, tim nasional (timnas) AS berhasil menjuarai Piala Emas CONCACAF usai mengakhiri perlawanan Panama 1-0 di Stadion Soldier Field, Chicago, AS, Minggu (28/7) lalu. Gelar juara ini sekaligus mengakhiri masa penantian Sam's Army --julukan timnas AS-- selama enam tahun. Terakhir kalinya mereka mengangkat trofi Piala Emas pada 2007, saat mengalahkan Meksiko 2-1.
Sebetulnya prestasi AS di enam tahun terakhir tidak jelek-jelek amat. Tercatat dalam dua penyelenggaraan terakhir sebelum ini, AS mampu jadi runner-up setelah kalah dari rival utama di kawasan ini, Meksiko, masing-masing 0-5 (tahun 2009) dan 2-4 (2011).
Berjaya jadi juara, perjalanan sepak bola timnas yang saat ini diarsiteki Juergen Klinsmann itu tak sepenuhnya mulus. Mereka tampak tertatih-tatih di babak kualifikasi Piala Dunia 2014 dengan pertandingan yang didominasi oleh hasil seri.
Soccer Kalah Pamor
Sepakbola (football, voetbal, futbol, fussball, calcio) merupakan cabang olahraga yang umumnya digemari orang. Tak heran kalau "The Greatest Show on Earth" meletakkan Piala Dunia di peringkat teratas, dan Piala Eropa di peringkat ketiga. Sementara olahraga multievent Olimpiade diapit oleh keduanya.
Namun, hal bertolak belakang terjadi di AS. Negeri ini boleh bangga dengan Pasuckquakkohowog, yang disebut-sebut sebagai sejarah lama untuk istilah "sepakbola". Akan tetapi, sepakbola yang akrab disebut soccer itu justru kalah populer dibanding American Football, bola basket, ataupun baseball. Masyarakat AS memang menggemari ketiga olahraga yang disebutkan terakhir itu karena bisa menghasilkan banyak point (goal).
Sudah tidak populer, istilah soccer juga dianggap sebagai salah satu cara Amerikanisasi, sehingga banyak yang menolak penggunaan "soccer" dan tetap setia dengan "football". Ini terjadi terutama di dataran Eropa, yang memang jadi kiblat sepakbola dunia.
Tapi sesungguhnya Amerika Serikat sendiri tidak salah. Kala pertama kali olah raga ini masuk ke AS, Inggris memang menggunakan kata "soccer". Bahkan, soccer sendiri jadi kata yang paling umum digunakan untuk menyebut sepakbola di Britania Raya.
Dulunya, anak muda di Inggris memiliki kebiasaan untuk menambahkan akhiran –er sebagai panggilan untuk sesuatu. Rugby, misalnya. Olah raga ini akrab dikenal dengan nama Rugger. Sementara Association Football lebih dikenal dengan "Assocer". Dari kebiasaan ini lah kemudian muncul kata "soccer", atau"soccer football".
Masalahnya, saat sepakbola keburu dikenalkan lebih luas pada publik Amerika Serikat di tahun 1970-an, negara-negara Britania Raya sudah keburu meninggalkan istilah ini.
Perkembangan Sepakbola AS dalam Percaturan Dunia
Cabang olahraga sepakbola sesungguhnya telah lama dikenal oleh masyarakat AS. Sejarah mencatat bahwa sejak kedatangan imigran Inggris yang mendarat di pantai Massachussets, AS, pada 1620, mereka sudah melihat Pasuckquakkohowog yang dimainkan oleh orang-orang Indian.
Dua ratus tahun kemudian lahir klub sepakbola pertama di AS yang bernama The Oneidas of Boston. Klub yang dibentuk pada masa pemerintahan Presiden Abraham Lincoln (1861-1866) itu didirikan oleh Gerrit Miller Smith pada 1862. Dalam perkembangannya, AS pun tercatat sebagai peserta Piala Dunia pertama pada 1930. Kala itu mereka mencetak prestasi terbaiknya hingga kini: semifinalis.
Mulai 1980-an, timnas AS berbenah diri. Mereka mulai menyejajarkan diri dengan tim-tim lain di dunia. Karenanya, tak heran jika AS menjadi langganan peserta putaran final Piala Dunia sejak 1990.
Meskipun kompetisi sepakbolanya sempat mati suri, AS mulai membuka lembaran baru. Tepatnya pada 1996, saat pertandingan pertama Major League Soccer(MLS) dilaksanakan. Sebelumnya, bertindak sebagai tuan rumah Piala Dunia 1994 juga seakan jadi pengakuan dunia atas peran AS di dunia sepakbola.
Kompetisi sepakbola di AS juga pernah diramaikan oleh para (mantan) bintang dunia, seperti Pele, Bobby Moore, Franz Beckenbauer, dan Johan Cruyyf di era 1970-1980-an. Selanjutnya, di era 1990-2000-an, giliran Marco Etcheverry, Hristo Stoichkov, Lothar Matthaues, Juergen Klinsmann, Youri Djorkaeff, Thierry Hungry, dan David Beckham.
AS, Inggris, dan Indonesia
Inggris boleh-boleh saja mengklaim sebagai negara yang melahirkan sepak bola modern. Namun, untuk urusan mendapatkan piala, negeri Ratu Elizabeth itu mungkin bisa melihat pada Paman Sam.
Masalahnya, saat sepakbola keburu dikenalkan lebih luas pada publik Amerika Serikat di tahun 1970-an, negara-negara Britania Raya sudah keburu meninggalkan istilah ini.
Perkembangan Sepakbola AS dalam Percaturan Dunia
Cabang olahraga sepakbola sesungguhnya telah lama dikenal oleh masyarakat AS. Sejarah mencatat bahwa sejak kedatangan imigran Inggris yang mendarat di pantai Massachussets, AS, pada 1620, mereka sudah melihat Pasuckquakkohowog yang dimainkan oleh orang-orang Indian.
Dua ratus tahun kemudian lahir klub sepakbola pertama di AS yang bernama The Oneidas of Boston. Klub yang dibentuk pada masa pemerintahan Presiden Abraham Lincoln (1861-1866) itu didirikan oleh Gerrit Miller Smith pada 1862. Dalam perkembangannya, AS pun tercatat sebagai peserta Piala Dunia pertama pada 1930. Kala itu mereka mencetak prestasi terbaiknya hingga kini: semifinalis.
Mulai 1980-an, timnas AS berbenah diri. Mereka mulai menyejajarkan diri dengan tim-tim lain di dunia. Karenanya, tak heran jika AS menjadi langganan peserta putaran final Piala Dunia sejak 1990.
Meskipun kompetisi sepakbolanya sempat mati suri, AS mulai membuka lembaran baru. Tepatnya pada 1996, saat pertandingan pertama Major League Soccer(MLS) dilaksanakan. Sebelumnya, bertindak sebagai tuan rumah Piala Dunia 1994 juga seakan jadi pengakuan dunia atas peran AS di dunia sepakbola.
Kompetisi sepakbola di AS juga pernah diramaikan oleh para (mantan) bintang dunia, seperti Pele, Bobby Moore, Franz Beckenbauer, dan Johan Cruyyf di era 1970-1980-an. Selanjutnya, di era 1990-2000-an, giliran Marco Etcheverry, Hristo Stoichkov, Lothar Matthaues, Juergen Klinsmann, Youri Djorkaeff, Thierry Hungry, dan David Beckham.
AS, Inggris, dan Indonesia
Inggris boleh-boleh saja mengklaim sebagai negara yang melahirkan sepak bola modern. Namun, untuk urusan mendapatkan piala, negeri Ratu Elizabeth itu mungkin bisa melihat pada Paman Sam.
Misalnya saja dalam kompetisi regional. Di saat AS telah menggondol 5 gelar juara Piala Emas CONCACAF, semenjak kompetisi ini digelar pada 1991, Inggris hanya pernah satu kali peringkat tiga Piala Eropa. Itu pun di tahun 1968. Satu-satunya raihan yang bisa dibanggakan oleh Inggris datang pada 1966, yaitu saat ia jadi juara Piala Dunia. Itu juga dengan catatan bahwa Inggris tampil sebagai tuan rumah.
Memang, membandingkan zona CONCACAF dan Eropa sendiri tentu tak adil. Dari daftar pesertanya saja terlihat bahwa Piala Eropa berlangsung lebih ketat dan lebih sulit untuk dimenangkan. Karena itu, Piala Dunia jadi satu-satunya kompetisi yang bisa memperbandingkan prestasi kedua timnas. Dan d isini Inggris terlihat sedikit lebih unggul, setidaknya dalam 15 tahun terakhir. Inggris sudah 2 kali ke perempatfinal, sementara Amerika baru satu kali.
Namun, untuk negara yang mengaku sebagai negara ibu dari sepakbola, raihan Inggris ini terasa biasa-biasa saja. Amerika Serikat pun, jika mau, bisa berkata jika sepak bola mereka tak ketinggalan-ketinggalan amat dari Inggris.
Terlepas dari prestasi keduanya, ada satu benang merah yang menyatukan AS dan Inggris yaitu keberhasilan mereka menjadikan sepak bola sebagai bisnis. Coba lihat saja bagaimana beberapa pengusaha asal AS menjadi pemilik klub di Liga Primer Inggris. Sepakbola di AS pun telah mengarah pada industri meskipun untuk saat ini masih kalah dengan negara-negara lainnya. Harap maklum, AS bukanlah negara yang populer dalam bidang sepakbola (soccer). Meskipun demikian, toh Erick Thohir, pengusaha asal Indonesia, justru telah masuk keklub MLS, DC United.
Berbicara tentang Erick Thohir, lalu bagaimana dengan Indonesia? Berhasilkah menyatukan sepakbola sebagai olahraga dan bisnis?
Jika sistemnya masih begini-begini saja, tidak ada perubahan fundamental yang disegerakan, boleh jadi sepakbola sebagai bisnis (industri) dan olahraga (prestasi) bukan saja berada di tahap impian, namun masih berkutat sebagai khayalan.
Di Indonesia sepakbola adalah "anak utama", bukan "anak tiri", dunia olahraga Indonesia, tapi sengsaranya gak ketulungan. Sudahlah tak berprestasi, federasinya selalu jadi kontroversi, para pemainnya sampai mengemis-ngemis gaji ke kantor PSSI. Bandingkan dengan basket di Indonesia. Bukan "anak utama" olahraga, tapi tak pernah kita dengar ada pemainnya yang meninggal di rumah sakit karena ditunggak gajinya.
Sangat miris jika dibandingkan dengan AS. Di sana, soccer masih menjadi olahraga anak tiri. Namun, mereka telah membuktikannya dengan prestasi dan mengarah pada industri.
Memang, membandingkan zona CONCACAF dan Eropa sendiri tentu tak adil. Dari daftar pesertanya saja terlihat bahwa Piala Eropa berlangsung lebih ketat dan lebih sulit untuk dimenangkan. Karena itu, Piala Dunia jadi satu-satunya kompetisi yang bisa memperbandingkan prestasi kedua timnas. Dan d isini Inggris terlihat sedikit lebih unggul, setidaknya dalam 15 tahun terakhir. Inggris sudah 2 kali ke perempatfinal, sementara Amerika baru satu kali.
Terlepas dari prestasi keduanya, ada satu benang merah yang menyatukan AS dan Inggris yaitu keberhasilan mereka menjadikan sepak bola sebagai bisnis. Coba lihat saja bagaimana beberapa pengusaha asal AS menjadi pemilik klub di Liga Primer Inggris. Sepakbola di AS pun telah mengarah pada industri meskipun untuk saat ini masih kalah dengan negara-negara lainnya. Harap maklum, AS bukanlah negara yang populer dalam bidang sepakbola (soccer). Meskipun demikian, toh Erick Thohir, pengusaha asal Indonesia, justru telah masuk keklub MLS, DC United.
Berbicara tentang Erick Thohir, lalu bagaimana dengan Indonesia? Berhasilkah menyatukan sepakbola sebagai olahraga dan bisnis?
Jika sistemnya masih begini-begini saja, tidak ada perubahan fundamental yang disegerakan, boleh jadi sepakbola sebagai bisnis (industri) dan olahraga (prestasi) bukan saja berada di tahap impian, namun masih berkutat sebagai khayalan.
Di Indonesia sepakbola adalah "anak utama", bukan "anak tiri", dunia olahraga Indonesia, tapi sengsaranya gak ketulungan. Sudahlah tak berprestasi, federasinya selalu jadi kontroversi, para pemainnya sampai mengemis-ngemis gaji ke kantor PSSI. Bandingkan dengan basket di Indonesia. Bukan "anak utama" olahraga, tapi tak pernah kita dengar ada pemainnya yang meninggal di rumah sakit karena ditunggak gajinya.
Sangat miris jika dibandingkan dengan AS. Di sana, soccer masih menjadi olahraga anak tiri. Namun, mereka telah membuktikannya dengan prestasi dan mengarah pada industri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar